Catatan Energi Jotrii

Pada awalnya, tujuan saya Ngeblog hanya untuk menyimpan data,catatan harian, tugas kuliah dan file file lain yang bisa saya ambil di manapun , kapanpun karena saat itu saya belum punya Laptop. Komputer Kantor dan Warnet jadi Andalan saya untuk kerja.

Sekarang, dari Hobi Ngeblogger ini saya bisa dapat penghasilan tambahan. Alhamdulillah.

Kalo Tulisan Tulisan saya ada yang bermanfaat boleh dipraktikan, dibagikan. Kalo nggak ada skip aja. Simple.

Kritik dan saran Hubungi nomor WA 081337950735

Selasa, 15 Maret 2016

EMPAT TINGKATAN RIZKI

EMPAT TINGKATAN MERAIH RIZKI Terdapat empat tingakatan/tahapan dalam meraih rizki: 1. Rizki yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.(QS 11:6) Setiap makhluk telah dijamin rizkinya. Ini merupakan modal awal. Salah satu maknanya adalah bahwa manusia tidak boleh pesimis dengan rizki Allah karena telah dijamin unuk seluruh makhluk-Nya. Namun demikian, manusia hendaknya memiliki perbedaan dibandingkan dengan makhluk yang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan untuk giat bekerja, profesional, dan mandiri. Menjauhkan diri dari sifat malas apalagi bergantung kepada orang lain. 2. Rizki karena profesional atas apa yang diusahakannya . Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangannya. Maka mengapakah mereka tidak besyukur? (QS 36:34-35) Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS 62:39) Setelah diberikan modal awal, maka harus diupayakan atau diusahakan agar bertambah. Dengan cara memperolehnya dengan bekerja secara profesional. Inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan bekerja, manusia mendapatkan sesuai yang diusahakannya. Tidak peduli apakah orang tersebut beriman atau tidak. Muslim atau kafir Jika dia profesional maka akan mendapatkan hasil yang setimpal. Perlu diingat bahwa sebagai muslim, kita tidak boleh kerja asal-asalan. Pekerjaan hendaknya diimbangi dengan ilmu. Harus ada inovasi. Seperti kata Buya HAMKA, “Kalo bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dapat bermanfaat bagi lainnya. 3. Rizki karena sikap senantiasa bersyukur. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih. (QS 14:7) Setelah itu, bersyukurlah kepada Allah. Caranya dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya. Baik ibadah maghdhah maupun muamalat. Kewajiban seperti shalat dan zakat jangan pernah ditinggalkan. Shadaqah dan infaq ditingkatkan. Dengan demikian nikmat yang telah Allah berikan dapat juga dirasakan manfaatnya oleh saudara-saudara kita. Maka nampaklah karunia dari Allah yang melimpah tersebut. Jangan ditahan apa yang telah menjadi kewajiban kita dan tunaikan hak atas orang yang berhak. 4. Rizki karena sifat/karakter sebagai pribadi yang bertakwa. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS 65:2-3) Ini merupakan tingkatan tertinggi. Dengan tahapan-tahapan sebelumnya dan disempurnakan dengan taqwa dan tawwakal, maka tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan baginya. Sepenuhnya yakin kepada Allah swt dalam setiap pekerjaan. Dia yakin bahwa rizki bukanlah mengenai harta atau uang semata. Dia senantiasa ingat kepada Allah dalam berdagang atau menjalankan profesinya sehingga dia enggan untuk mendekati usaha-usaha yang haram dan bathil. Apa yang diusahakannya senantiasa diperhatikan kualitasnya tidak hanya kuantitas yang dicari. Apa yang diusahakan haruslah bernilai tambah dan bermanfaat bagi orang lain. Segalanya dia lakukan dengan jujur. Integritas dan kompetensi dia pegang teguh dalam menjalankan profesinya. Dia senantiasa merasa cukup meski yang didapatkan bisa jadi lebih kecil daripada orang lain. Namun karena taqwa dan tawakalnya tersebut malah membuatnya menjadi berlebih. Berbeda dengan orang yang tamak dan rakus. Tidak cukup diberi satu, maunya minta lagi dan tidak pernah merasa cukup. Sibuk sikut sana sikut sini untuk mendapatkan jabatan atau pangkat. Grusak grusuk mencari cara memperkaya diri namun akhirnya jatuh dalam kehinaan karena sifat tamaknya tersebut. Mudah-mudahan kita senantiasa terpacu untuk dapat meraih tingkatan ke-empat dan dapat meninggalkan sifat-sifat rakus dan tamak dalam mencari rizki. Semoga Allah senantiasa memimbing dan memberkahi. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggakan Pesan, Kritik dan saran ya..